Bayangkan sebuah perangkat kecil seukuran telapak tangan, namun mampu mengendalikan lampu, mengatur suhu ruangan, bahkan mengontrol sistem keamanan rumah secara otomatis. Itulah kekuatan dari Single Board Controller, sebuah teknologi sederhana namun cerdas yang kini menjadi otak di balik banyak sistem otomatisasi modern. Meski ukurannya kecil, kemampuannya dalam menjalankan berbagai perintah kompleks membuatnya sangat populer di dunia industri, pendidikan, hingga hobi elektronik. Apa sebenarnya yang membuat alat mungil ini begitu istimewa dan bagaimana cara kerjanya? Mari kita telusuri lebih dalam.
Single Board Controller (SBC) adalah sebuah komputer miniatur atau sistem kontrol yang terintegrasi dalam satu papan sirkuit (PCB). SBC telah memiliki seluruh komponen dasar seperti prosesor, memori, penyimpanan, dan antarmuka input/output (I/O) sehingga dapat berfungsi sebagai komputer utuh atau sistem kendali mandiri.
SBC digunakan dalam berbagai bidang seperti pendidikan, otomasi industri, sistem IoT, robotika, hingga perangkat multimedia. Kebanyakan single board controller menjalankan semua fungsi PC standar, tetapi semua komponennya—mikroprosesor tunggal atau ganda, read-only memory (ROM), dan input/output interfaces—harus dikonfigurasikan pada satu papan.
Single board controller memiliki memori sebesar 128 MB sampai dengan 2 GB, bahkan sebagian sudah lebih besar. Selain itu, juga terdapat slot external storage umum, seperti SD Card atau USB Disk dan memiliki prosesor kecepatan tinggi.
KOMPONEN UTAMA SINGLE BOARD CONTROLLER
a. CPU (Processor): Unit pemrosesan utama untuk menjalankan instruksi dan perintah program.
b. RAM (Memori) : Menyimpan data sementara saat program berjalan. |
c. Storage : Tempat menyimpan sistem operasi dan file aplikasi (biasanya microSD atau eMMC). d. GPIO (General Purpose Input/Output) : Untuk koneksi dengan perangkat eksternal seperti sensor, relay, motor.
e. Port USB : Menghubungkan perangkat input (keyboard, mouse) atau output (printer, flashdisk).
f. HDMI/Display Port : Menampilkan output visual ke monitor/layar. |
g. WiFi/Bluetooth : Koneksi ke jaringan atau perangkat wireless lainnya.
h. Power Supply : Menyediakan daya (biasanya 5V–12V).
KELEBIHAN SINGLE BOARD CONTROLLER
a. Ukuran kecil dan hemat energi
b. Harga relatif murah
c. Komunitas dan dokumentasi luas
d.Bisa diprogram dengan bahasa modern (Python, Node.js, dll)
KEKURANGAN SINGLE BOARD CONTROLLER
a. Tidak cocok untuk pemrosesan berat
b. Terbatas pada jumlah port dan ekspansi
c. Risiko panas jika tidak diberi pendingin
d. Rawan kerusakan jika tidak diberi pelindung
KOMPONEN SINGLE BOARD CONTROLLER
1. Breadboard
2. Kabel Jumper
3. Buzzer
4. Resistor
5. Push Button
PENERAPAN SINGLE BOARD CONTROLLER
1. Pengatur Suhu dan Kelembapan Otomatis
Pengatur suhu dan kelembapan otomatis pada single board controller (seperti Arduino atau Raspberry Pi) bekerja dengan cara memantau kondisi lingkungan menggunakan sensor, seperti DHT11 atau DHT22. Sensor ini mengukur suhu dan kelembapan udara, lalu mengirimkan data tersebut ke mikrokontroler pada single board controller. Setelah data diterima, sistem akan memproses informasi tersebut berdasarkan program atau logika yang telah ditanamkan sebelumnya. Jika suhu atau kelembapan melebihi atau kurang dari batas yang telah ditentukan, maka mikrokontroler akan mengaktifkan perangkat pengendali seperti kipas angin, pemanas, atau pelembap udara secara otomatis. Proses ini berlangsung secara terus-menerus, sehingga suhu dan kelembapan tetap stabil sesuai dengan kebutuhan. Sistem ini banyak digunakan dalam rumah pintar, ruang penyimpanan, hingga pertanian modern karena mampu menjaga kondisi lingkungan secara efisien tanpa campur tangan manusia secara langsung.
2. Smart Home
Single board controller (SBC) pada smart home berfungsi sebagai pusat kendali utama yang mengatur komunikasi antara berbagai perangkat pintar di dalam rumah. Perangkat ini umumnya berupa papan sirkuit kecil seperti Raspberry Pi, Arduino, atau ESP32 yang dilengkapi dengan prosesor, memori, dan input/output (I/O) untuk menghubungkan sensor dan aktuator. Cara kerjanya dimulai dari pengumpulan data oleh sensor, seperti sensor gerak, suhu, atau kelembaban. Data ini dikirim ke SBC untuk diproses sesuai logika atau program yang telah ditanamkan sebelumnya.
Setelah memproses data, SBC akan mengambil keputusan dan mengirimkan perintah ke perangkat lain, misalnya menyalakan lampu saat mendeteksi gerakan, atau mengaktifkan AC ketika suhu ruangan naik. SBC juga bisa dihubungkan ke jaringan Wi-Fi, sehingga pengguna dapat memantau dan mengontrol sistem smart home secara jarak jauh melalui aplikasi atau platform berbasis web. Selain itu, SBC dapat dikonfigurasi untuk mendukung sistem otomatisasi yang kompleks, seperti mengintegrasikan jadwal, kondisi cuaca, atau perintah suara dari asisten virtual. Dengan kemampuannya yang fleksibel dan biaya yang relatif rendah, SBC menjadi komponen kunci dalam pengembangan sistem smart home yang efisien dan terjangkau.
Sumber: kumparan.com
